Sabtu, 03 Januari 2009
kebohongan yahudi dan eropa
Holocaust adalah sebuah kebohongan karena tak satupun dari tiga pilar utama yang bisa mendukung keyakinan itu secara faktual benar atau terbukti.
Pertama, soal Jerman-Hitler yang secara sistematis memusnahkan Yahudi Eropa. Tidak ada bukti yang kuat untuk klaim ini, yang ada adalah perpindahan orang-orang Yahudi. Bersama-sama dengan Yahudi Zionis, Yahudi Jerman tiba di Palestina dengan harta benda mereka. Yahudi lainnya pindah ke luar wilayah Jerman dan Auschwitz adalah sebuah kamp tempat transit.
Kedua, soal pembunuhan besar-besaran yang dilakukan di kamar-kamar eksekusi dengan menggunakan gas kimia. Secara teknis, hal itu tidak mungkin terjadi karena bisa anda coba berapa lama waktu yang dibutuhkan, misalnya untuk membunuh satu juta orang --jumlah yang sama dengan penduduk Adelaide-- tanpa seorangpun yang menemukan tentang hal itu. (Dalam hal ini ia membandingkan kebohongan Bush tentang invasi ke Irak) Dunia dengan cepat tahu bahwa Presiden Bush berbohong tentang senjata pemusnah massal di Irak-kebohongan itu bahkan tidak berakhir dalam satu tahun.
Ketiga, katanya ada 6 juta Yahudi yang dibunuh-angka ini cuma dongengan-dan meskipun pada satu waktu jumlah Yahudi yang dibunuh di Auschwitz diklaim sebanyak 4 juta orang, kemudian turun menjadi 1-1,5 juta dan sekarang malah disebut sekitar 500 ribu orang, tapi angka 6 juta masih tetap diyakini. Mengapa?
Setiap orang mempertanyakan tiga poin tadi sekarang dipenjarakan-dan para Revisionis harus harus menanyakan tiga pertanyaan tadi jika mereka mau mengetahui fakta sebenarnya tentang kisah Holocaust.
Jika mereka benar, tentu saja mereka bisa membuktikannya sebagai fakta sejarah. Tapi, mengapa mereka selalu menghindari diskusi tentang Holocaust?
Dunia internasional marah pada kata-kata Presiden Iran yang secara jelas mengungkapkan pandangannya bahwa paska Perang Dunia dua tatanan kekuatan dunia sama-sama terperangkap oleh mitos Holocaust. Anda memulainya dengan menyatakan sebuah fakta bahwa Yahudi dipindahkan ke luar Eropa. Kemudian anda melebih-lebihkan penderitaan mereka saat pemindahan itu pada orang-orang Yahudi-dan tak seorangpun yang membantahnya. Kemudian sebuah kebohongan diciptakan bahwa orang-orang Yahudi di-gas karena Hitler membenci mereka.
Perang Dunia II lebih dari hanya seorang Hitler dan orang Yahudi. Hitler memutus ekonomi Jerman dari para predator internasional yang menganut kapitalisme-dan melakukan barter secara bebas antar negara yang menolak untuk masuk perangkap utang yang utamanya dikendalikan oleh lembaga keuangan internasional Yahudi.
Karena Holocaust adalah kebohongan, maka harus dilindungi secara legal. Reaksi histeris para pemimpin dunia mengindikasikan bahwa Zionis memiliki kekuatan baik secara individual maupun di pemerintahan-pemerintahan. Holocaust pun menjadi semacam agama. Di negara-negara Eropa anda boleh mengkritik atau menghina Yesus, Bunda Maria dan sebagainya, tapi anda tidak boleh mengkritisi Yahudi dan 'Holocaust' nya itu.
Gemar Rudolf telah menulis laporan yang pasti dalam The Rudolf Report. Isinya menyangkal klaim bahwa pembunuhan dengan gas itu terjadi di Auschwitz. Beberapa orang lainnya juga sudah menerbitkan laporan serupa. Fritjof Meyer- dari kelompok sayap kiri di Jerman- menyatakan bahwa Auschwitz itu sendiri bukan sebuah kamp pembunuhan atau peng-gas-an, tapi pembunuhan dengan menggunakan gas beracun itu terjadi di dua rumah di tanah pertanian di luar kamp Auschwitz-Birkenau. Sampai detik ini, tidak seorangpun yang menemukan sisa-sisa rumah di tanah pertanian itu.
Mengapa Holocaust menjadi semacam dogma sementara pembunuhan massal lainnya yang terjadi di berbagai belahan dunia tidak terlalu mendapat perhatian?
Presiden Iran benar dengan apa yang dikatakannya-kebencian terhadap nya dan kata-katanya mengindikasikan betapa pernyataannya memiliki kekuatan, dunia mendengarkannya. Kenapa? Karena Holocaust menjadi pembenaran tindakan Yahudi terhadap rakyat Palestina. Tanpa Holocaust, tidak ada alasan bagi Yahudi untuk melakukan pembersihan etnis di Palestina. Maka negara Zionis Israel, yang dikenal sebagai koloni Eropa, terus melakukan kebijakan rasis terhadap bangsa Palestina. Karena negara Yahudi sekarang terjadi dari Yahudi Eropa masa lalu yang diklaim mengalami 'Holocaust', adalah sebuah kebohongan. Maka, Israel dibangun atas dasar sebuah kebohongan.
Mengapa para revisionis dilarang mendiskusikan Holocaust dan mengapa mereka yang mengungkapkan keraguannya terhadap Holocaust diperlakukan seperti yang melakukan bid'ah?
Sekutu yang terdiri dari Inggris, AS, Rusia, Inggris dan Perancis menjadi kontrol kekuatan Jerman di Eropa melalui mitos Holocaust. Keinginan Jerman untuk menjadi yang dominan di Eropa berhasil dikendalikan negara persekutuan itu. Pemusnahan bangsa Jerman dari Jerman berlanjut karena mereka merasa Jerman seiring dengan Nazi dan mereka yang tidak percaya akan Holocaust.
Kebijakan itu untuk membasmi orang Jerman sebagai sebuah etnis di negara Jerman. Banyak orang Jerman yang melihat ini sebagai Holocaust orang Jerman yang dilakukan dengan dalih multikulturalisme di mana orang-orang Jerman digantikan oleh orang-orang dari seluruh belahan dunia. Orang Jerman bukan lagi tuan rumah di negerinya sendiri. Ini sama dengan jika warga Kurdi dan Turkiyang datang ke Iran berhasil mengambil alih pemerintahan.
Revisionis adalah orang-orang yang pariotis yang mencintai negara mereka-seperti orang Iran mencintai negara Iran.
Sebagai orang Australia, anda dipenjara di Jerman. Apa alasannya?
Pada tahun 1997, saya melakukan riset tentang Holocaust dengan mendatangi sejumlah jaksa dan hakim di Jerman. Saya melakukan perjalanan lagi ke Jerman pada 1999 dan pada saat ini jaksa yang sama yang saya kunjungi pada tahun 1997 menangkap saya. Saya dipenjara selama 7 bulan di Mannheim. IRIB ikut berperan dalam hukuman penjara saya. Ketika saya bebas pada tanggal 11 November 1999, saya berkunjung ke Iran selama satu minggu. Sambutannya baik. Itulah sebabnya saya datang lagi ke Iran untuk mengikuti Kongres Intifada pada 2001dan 2003. Iran adalah satu-satunya negara di mana rakyatnya tahu bahwa Holocaust adalah isapan jempol belaka.
Yang menjadi masalah bagi hukum Jerman adalah, jika anda mempertahankan diri anda menentang Holocaust dengan informasi-informasi yang faktual, itu dianggap sebagai bukti bahwa anda melakukan bid'ah dan anda dianggap memiliki 'banyak energi kriminal.' Ketika anda sudah di pengadilan, itu sudah cukup membuktikan anda bersalah. Semakin anda membela diri, hukumannya makin berat, itulah sebabnya saya memilih diam di pengadilan. Dan tahun lalu, tanggal 8 November 2004, saya diajukan ke pengadilan lagi di Mannheim. Untungnya saya ada di Australia dan saya dilarang masuk ke Jerman karena saya dinyatakan sebagai orang yang tidak diinginkan. Jadi, kalau saya pergi memenuhi panggilan pengadilan, saya akan ditangkap di perbatasan Jerman, lalu diadili dan jika saya membela diri, itu hanya akan menambah tuntutan kesalahan saya, akan lebih buruk buat saya. Saya lalu bertanya pada hakim apa yang harus saya lakukan, sampai sekarang tidak ada jawabannya.
Sekarang, perkembangan terbaru dimainkan oleh Horst Mahler. Ia menantang, jika Holocaust itu benar, maka harus dibuktikan di pengadilan. Mahler adalah salah seorang yang menyangkal Holocaust, di Jerman penentangan itu dianggap sebagai hasutan dan bisa terkena tuduhan pelanggaran rasial. Mahler mendasari keyakinannya pada buku Germar Rudolf dan kuliah-kuliah tentang Holocaust, yang menjadi argumennya bahwa aparat hukum Jerman harus membuka dirinya untuk informasi baru tentang periode sejarah yang disebut Holocaust.
Kontroversi ini juga menimbulkan masalah negara Jerman dengan Turki, ketika Jerman menuntut seorang penulis Turki yang dengan berani mengungkapkan tentang Armenian 'Holocaust', sebagai sebutan atas peristiwa pembantaian di Turki.
Catatan:
Dr Fredrick Toben, asli Jerman tapi dibesarkan di Australia dan menjadi warga negara Australia. Ia mampu berbahasa Inggris dan Jerman. Ia memiliki minat untuk membebaskan orang-orang Jermandari sikap anti rasis terhadap Jerman akibat legenda Holocaust. Awalnya ia mengedir jurnal-jurnal revisionis yang disebut Truth Mission yang kemudian diganti namanya menjadi Adelaide Institute Newsletter. Toben kemudian memperluasnya dengan membuat situs untuk para revisionis. Dia secara pribadi juga sudah mengunjungi Auschwitz dan liang-liang yang ada di bawah kamar-kamar yang diduga digunakan sebagai kamar gas. Di sana, ia tidak menemukan empat lubang di atap yang disebut-sebut untuk mengalirkan gas ke dalam ruangan. Toben juga kerap melakukan dialog secara teratur dengan para ahli 'pemusnahan' etnis. (ln/tehrantimes/Eramuslim)
Jumat, 02 Januari 2009
kebohongan terbesar yahudi
Selain Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, belum pernah ada tokoh di dunia yang berani secara terang-terangan mengatakan keberadaan holocaust hanya sekedar mitos. Sebab, bagi banyak orang, khususnya di Barat dan Eropa, menolak keyakinan keberadaan Holoucaust bisa dianggap sebagai ‘anti semit’ dan sebuah pelanggaran tidak sepele.
Holocaust, yang diklaim kaum Yahudi sebagai peristiwa pembantaian oleh Nazi Jerman di bawah Adof Hitler di masa Perang Dunia II - kaum Yahudi juga menyebutnya sebagai ‘the final solution - dan dianggap menyebabkan lebih dari enam juta kaum Yahudi ‘dibantai’ di ruang gas di kamp-kamp Auschwitz tak lain hanyalah ‘kebohongan’ tergorganisir dan tercanggih di abad ini.
Kecuali orang tidak waras, bagi kebanyakan orang normal, meyakini lebih dari enam juta kaum Yahudi disiksa dan dibantai adalah sulit dinalar. Bagi yang percaya propaganda murahan seperti ini, membantai jutaan orang - secara matematis membutuhkan 137 orang perjam-nya untuk dibantai - adalah omong kosong yang tak bermutu. Sebab, selama Perang Dunia II, hanya ada segelintir kamp-kamp di Jerman. Selain itu, kota Austchwitz adalah kota kecil. Seharusnya Jerman harus menyediakan ratusan kamp di kota kecil itu.
Bahkan selama 6 hari pada Oktober 1999, sebuah tim Australia yang dipimpin oleh Richard Krege - seorang insinyur elektronik terkemuka - melakukan pengujian terhadap tanah pada bekas kamp Treblinka II di Polandia, di mana para sejarawan Holocaust meyakini jutaan orang Yahudi dibunuh di kamar gas kemudian dikubur secara massal, tak mendapatkan bukti apapun, kecuali kebohongan.
Untuk yakin bahwa jumlah Yahudi di Eropa selama 60 tahun lalu melebih enam juta jiwa (sedangkan saat ini jumlah keseluruhan populasi hanya berkisar 20 juta jiwa) diperkirakan hanya bisa diwakili orang-orang yang ‘tidak sehat’ berfikir.
Lantas bagaimana bisa cerita lelucon ini bisa “menyihir” jutaan orang dan Negara-negara besar di Barat dan Eropa? Panjang ceritanya. Lagi-lagi, tak jauh dari ‘teori konspirasi’ (meski hal-hal seperti ini sering dianggap isapan jempol semata).
Sejak mendirikan negara tahun 1948 dengan merampas tanah Palestina, Israel tidak begiku dianggap penting di dunia. Bahkan ketika Israel ikut bersekutu dengan Perancis dan Inggris menyerang Mesir tahun 1956 yang membuat semenanjung Sinai jatuh, Israel tetap tak dianggap berarti.
Bahkan Amerika Serikat (AS) kala itu lebih memilih “Negara Arab” untuk menjaga hubungannya karena dianggap lebih menguntungkan secara politis di masa depan.
Yahudi - dalam hal ini Holocoust - tiba-tiba dianggap begitu penting bagi pemerintahan Amerika khususnya, setelah ia berubah menjadi 'industri politik' yang digunakan untuk memeras dolar.
Sampai-sampai banyak warga Amerika yang lebih mengenal Holocaust dibanding sejarah penting mereka sendiri seperti peristiwa Pearl Harbor, di mana sejarah jatuhnya bom atom oleh Jepang. Bahkan hingga hari ini, tak ada penghargaan lebih tinggi melebihi Holocaust di Amerika Serikat (AS).
Begitu dahsyatnya “sihir” Holocaust, sampai-sampai bagi yang tak mengakui - termasuk yang menolak dan mengingkarinya - harus berhadapan dengan penjara. Tak kurang dari beberapa ilmuwan penting seperti; Robert Faurisson, Profesor Roger Garaudy (Perancis), David Irving (Inggris), Ernest Zandel (Kanada), Gatsom Amadeus (Swiss), George Ashley (AS), Dr. Joel Heyward (New Zealand), kesemuanya harus menjalani hukuman atas keberanian mereka menentang fakta adanya “kebohongan” Holocaust.
Norman G. Finkelstein pernah membuktikan kebenaran skandal bernama Holocaust. Sebuah fakta sejarah yang tiba-tiba berubah menjadi “industri politik” dan bisa memeras berbagai negara, terutama Amerika Serikat. Termasuk pemerasan bank-bank Swiss. Sang penulis, Norman G. Finkelstein - yang mengalami sendiri peristiwa itu, karena berdarah Yahudi - membuktikan banyak kebohongan yang kini terus-menerus dipaksakan ke seluruh penjuru dunia.
Sebagaimana kata koran The Times, “Buku ini meneriakkan skandal. Ini adalah sebuah polemik yang disuarakan dengan keras.”
By: Cholis Akbar (www.hidayatullah.com, Senin, 02 Oktober 2006).
israel biadab


Lebih dari 54 warga sipil, termasuk sedikitnya 34 anak-anak, meninggal akibat serangan udara militer Israel terhadap desa Qana, Libanon.
Beberapa keluarga yang kehilangan tempat tinggal berlindung di ruang bawah tanah di sebuah rumah di Qana. Rumah itu hancur akibat terkena tembakan langsung pesawat Israel.
Perdana Menteri Libanon Fouad Siniora mengutuk "para penjahat perang Israel" dan membatalkan pembicaraan dengan Menlu Amerika Serikat Condoleeza Rice.
Israel mengatakan menyesalkan insiden itu, tapi menambahkan warga sipil telah diperingatkan agar meninggalkan wilayah tersebut.
Perdana Menteri Israel Ehud Olmert mengatakan, Israel akan terus bertindak tanpa ragu-ragu terhadap Hizbullah" yang menemabkkan roket ke Israel dari Libanon selatan.
Olmert dilaporkan telah memberitahu Menlu AS Rice bahwa Israel memerlukan 10-14 hari lagi untuk melanjutkan serangannya.
Militer Israel telah meminta tim peninjau PBB di Libanon selatan agar mengosongkan dua desa lain, Ramyah dan Ayta ash-Shab -- sebelum matahari tenggelam, tapi mereka tidak sanggup memenuhi permintaan Israel itu, kata Sekjen PBB Koffi Annan.
Serangan dikutuk
Ratusan pengunjukrasa Libanon melancarkan unjukrasa yang diwarnai tindak kekerasan, mengobrak-abrik markas PBB di Beirut seraya memekikka yel-yel mengecam Amerika dan Israel dan sebaliknya mendukung militan Hizbullah.
Beberapa negara mengutuk serangan itu dan kembali menyerukan gencatan senjata dilakukan.
Israel dan Amerika Serikat menentang gencatan senjata dalam konflik ini.
Dalam pertemuan di Dewan Keamanan PBB, Sekjen Kofi Annan mendesak para anggotanya agar mengutuk keras serangan Qana dan menyisihkan perbedaan pendapat demi menyerukan gencatan senjata segera.
Perdana Menteri Inggris Tony Blair hari Minggu mengatakan, situasi tidak bisa dibiarkan dan semua permusuhan harus dihentikan begitu resolusi PBB diterima.
Menteri kesehatan Libanon kini mengumumkan sekitar 750 warganya, kebanyakan warga sipil, terbunuh oleh aksi Israel di Libanon sejak Israel melancarkan operasi militer 19 hari lalu.
Hizbullah bersumpah untuk membalas setelah serangan maut di Qana. Sejumlah roket Katyusha mengenai kota perbatasan Kiryat Shemona hari Minggu, mencederai sejumlah orang dalam peristiwa yang digambarkan warga sebagai hari paling mengerikan sejauh ini.
Sebanyak 51 warga Israel tewas, termasuk sedikitnya 18 warga sipil, terbunuh dalam konflik, yang dipicu oleh ditawannya dua serdadu Israel oleh Hizbullah 12 Juli.
Pemboman gencar
Saksi mata mengatakan, serangan pagi hari itu mengenai gedung tiga lantai, tempat beberapa keluarga berlindung di basemen dan menghancurkan bangunan hingga menjadi lubang menganga.
Seorang pengungsi yang selamat mengatakan "pemboman begitu gencar sehingga tidak orang yang sanggup bergerak".
Orang tua dan anak-anak termasuk mereka yang terbunuh dalam serangan Israel, yang menimbulkan kehancuran ke hamparan wilayah yang luas.
Para wartawan menuturkan bagaimana korban selamat berteriak-teriak penuh kepedihan dan kegeraman, sebagaian di antara berusaha menyisihkan puing-puing dengan tangan telanjang.
"Kami ingin menghentikan ini," teriak seorang warga desa.
"Semoga Allah mengasihi anak-anak itu. Mereka datang kemarin untuk mengungsi dari pertempuran," katanya.
Banyak orang yang ingin memberikan pertolongan mengaku tidak kuasa menghadapi dampak serangan.
Wartawan kami melihat seorang petugas Palang merah terduduk di bawah terik matahari menangis karena tidak kuasa mengendalikan perasaan.
Israel mengatakan, kelompok militan Syiah bertanggungjawab atas serangan Qana, sebab kelompok itu mempergunakan kota itu untuk menembakkan roket.
Wartawan BBC Jim Muri di Qana melaporkan, banyak warga tidak memiliki sarana atau terlalu takut untuk mengungsi.
'Kejahatan keji'
Perdana Menteri Libanon Fouad Siniora mengutuk "kejahatan keci terhadap warga sipil" yang dilakukan Israel, dan mengatakan, "tidak ada ruang pada pagi duka ini" untuk pembicaraan sampai Israel menghentikan serangan.
Dia menyerukan "gencatan senjata segera, tanpa syarat", dan memuji militan Hizbullah yang "mengorbankan nyawa bagi kemerdekaan Libanon".
Menlu AS Condoleez Rice mengatakan, dia "sangat sedih oleh hilangnya nyawa orang tidak bersalah secara mengerikan".
"Kami juga mendorong segera diakhirinya permusuhan, tapi pandangan berbagai pihak mengenai cara mencapai ini berbeda," katanya.
Para pejabat AS mengatakan, Rice kembali ke Washington hari Seni untuk mulai merancang resolusi PBB yang bertujuan menghentikan pertempuran.
Para wartawan mengatakan, kota Qana menyimpan bagi kenangan pedih bagi warga Libanon.
Qana adalah lokasi pangkalan PBB yang dibom Israel tahun 1996 yang menewaskan lebih dari 100 orang yang berlindung di tempat itu di tengah kecamuk serangan operasi "Grapes of Wrath" Israel, yang juga bertujuan untuk menghancurkan milisi Hizbullah.
