Sabtu, 03 Januari 2009

perkembangan islam di eropa

PERKEMBANGAN KOMUNITAS ISLAM DI EROPA.
(Oleh Gunadi – Den Haag)
Waktu berlalu dengan cepat. Tanpa terasa kita bertemu kembali dengan 1 Muharram. Jika 1 Muharram 1401 (11 November 1980) atau abad ke-15 Hijriyah yang menjadi simbol harapan renaisans Islam, maka perjalanan sang kala yang sudah memasuki seperempat abad kedua tampaknya tidak paralel dengan realitas yang menjadi indikator mutlak kebangkitan Ummah. Tetapi dalam kacamata yang relatif terhadap putaran waktu, gejala pencerahan itu mulai terasa, termasuk di kalangan minoritas Muslim terbesar di Barat yaitu di benua Eropa. Lelucon di atas barangkali bisa menjembatani realita masa lampau Islam di Eropa dengan masa kini.
 
Eropa dan Minoritas Muslim
Islam bagi Eropa bukanlah entitas baru karena pernah menjadi bagian dari benua itu khususnya di Semenanjung Iberia yang kini menjadi Spanyol dan Portugal (710-1492) hingga warga Muslim terakhir diusir dari sana tahun 1612 karena dituduh berkomplot dengan Khilafah Turki Utsmani dan dianggap sebagai Fifth Column yang subversif. Berbeda dari kasus Andalusia, enclaves Muslim pribumi (indigenous) di Semenanjung Balkan, Eropa Timur dan Tengah, Rusia, serta beberapa negara di seputar Laut Mediterrania tidak mengalami rekonquista dan inkuisisi sehingga tetap eksis.
 
Kembalinya Muslim secara besar-besaran ke Eropa (Barat) dimulai pasca Perang Dunia II. Kedatangan imigran Muslim tersebut bisa dilihat dari 2 arus utama. Pertama, sebagai tenaga kerja tamu tahun 1950-an. Ketika itu Eropa memberlakukan guest worker scheme yang banyak merekrut tenaga-kerja dari Afrika Utara dan Turki. Kebijakan ini terus berlanjut hingga tahun 1970-an. Setelah pensiun sebagian besar memutuskan menetap dan banyak pula yang mendatangkan keluarganya. Kedua, kedatangan sebagai akibat dari dekolonisasi. Ketika koloni Eropa di Asia dan Afrika merdeka tahun 1950-an, sebagian onderdaan mereka ikut pindah ke negeri bekas induk-semangnya. Prancis kedatangan Muslim dari negeri Francophone. Inggris menerima Muslim dari Anak Benua India. Selain modus di atas, jalur lain yang ditempuh imigran Muslim ke Eropa adalah karena ingin melanjutkan pendidikan, reunifikasi-keluarga, pengungsi (asielzoekers), bahkan pendatang-gelap. Tetapi modus-modus disebutkan terakhir ini tidak berperan signifikan. Kini sebagian besar Muslim di Eropa Barat merupakan generasi kedua dan ketiga dari para imigran tadi.
 
Tidak ada satu taksiran yang akurat terhadap jumlah Muslim di Eropa. Kalaupun ada, itu bagaikan “a shoot in a dark” (F. Buijs dan J. Rath, 2002). Tetapi menurut perhitungan Muslim Population Worldwide (2006), Muslim di Benua Eropa berjumlah 50,9 juta dari 729,7 juta populasi (hampir 7%) yang tersebar di 42 negara (tidak termasuk Turki). Tetapi di EU-25, jumlah Muslim sekitar 14,9 juta.
 
Beberapa Trend
Untuk memprediksi masa depan Muslim di Eropa kita perlu meninjau kecenderungan internal dan eksternalnya. Diantara trend internal tadi adalah: (1). Komunitas Muslim memiliki potensi demografis yang besar dengan indikasi laju pertambahan penduduk Muslim di Eropa cukup tinggi. Bahkan sejarawan terkemuka dari Princeton, Bernard Lewis menyatakan bahwa Eropa akan menjadi Islam—paling lambat—akhir abad ke-21. Prediksi lain menyebutkan, sebelum tahun 2050, paling tidak satu dari lima orang Eropa adalah Muslim (E. Osnos, 19/12/2004). Mantan redaktur salah satu rubrik Trouw, sebuah harian di Belanda, Ton Crijnen (1999) menyimpulkan bahwa 3-4 masyarakat asli Belanda dan Flanderen (Belgia belahan utara—penduduknya berbahasa Belanda) masuk Islam per minggu. Tahun 2001, angka natalitas di kalangan wanita Eropa Barat hanya 1,45. Sebuah penelitian memperkirakan jika angka tadi konstan dan imigrasi dibatasi, maka jumlah penduduk EU yang 377 juta itu akan tinggal separuhnya di akhir abad ini. Meskipun proyeksi-proyeksi tadi tidak otomatis menjadi self-fulfilling prophecy karena dinamika kependudukan tidak selalu berjalan linear, tetapi setidaknya menjadi ilustrasi terhadap potensi demografis tersebut. (2). Minoritas Muslim Eropa tidak monolitik. Mereka sangat beragam baik dari aspek etnisitas, fikih serta aliran. Disamping mayoritas imigran, terdapat pula penduduk asli yang Muslim. (3). Minimnya interaksi sosial dan aktivisme Muslim dalam menyelesaikan problematika sosial seperti kriminalitas, lingkungan, narkoba, institusi keluarga, dll. (4). Belum tuntasnya debat tentang integrasi. Mayoritas Muslim mendefinisikan integrasi sebagai kontribusi dan partisipasi aktif dengan tetap memelihara identitas masing-masing; sementara ada pihak yang mendefinisikan integrasi sebagai asimilasi. (5). Kurangnya pemahaman terhadap nilai-nilai setempat misalnya kebebasan individu, toleransi, dan sistem hukum yang mapan. (6). Munculnya gejala ekstrimitas di segelintir generasi muda Muslim yang bisa terjebak dalam tindak terorisme.
 
Disamping itu, terdapat pula beberapa trend eksternal yang signifikan: (1). Tata dunia pasca Perang Dingin seolah menempatkan Islam sebagai pengganti hantu komunisme. Aksi terorisme yang disangkakan pada beberapa individu Muslim, membawa efek buruk terhadap Muslim secara keseluruhan. (2). Kecenderungan munculnya cycle of fear yang melahirkan legislasi yang instrusif untuk menangkal teror. (3). Kebijakan imigrasi dan reunifikasi-keluarga yang ketat untuk melindungi Fortress of Europe dari serbuan imigran yang notabene banyak yang Muslim. (4). Kebijakan diskriminatif terhadap imigran khususnya dalam akses mendapatkan pendidikan dan pekerjaan. Kerusuhan di Prancis akhir 2005 adalah klimaks dari ketimpangan tersebut. (5). Untuk mengatasi kekurangan buruh, EU cenderung merekrut pekerja dari negara yang memiliki latar kultural yang sama dengan Eropa. (6). Politisi populis dan media cenderung mengeksploitasi isu-isu negatif Islam demi suara elektorat dan tiras.
 
Memprediksi Masa Depan
Merujuk ulasan di atas maka masa depan Islam di Eropa bisa diprediksi dengan indikator berikut. (1). Sejauhmana komunitas Muslim mampu menemukan solusi problematika di atas. (2). Sejauhmana resiliency dan kohesivitas internal sehingga mampu bertahan terhadap semua tekanan sekaligus serta mencari alternatif terbaik, misalnya dari segi institusionalisasi, layanan, dsb. (3). Sejauhmana komunitas Muslim mampu menjembatani dan menjalin dialog dengan komponen masyarakat yang lain serta pemerintah setempat seperti adanya media-massa sendiri (tidak dalam rangka membentuk masyarakat yang eksklusif), lobbyists dan pressure groups. (4). Sejauhmana kemampuan tokoh Islam dan ulama mencegah kecenderungan ekstrim di kalangan anak muda; mengarahkan mereka agar bersikap moderat sesuai dengan karakteristik Islam yang ummatan washatan, serta beraktivitas dalam koridor customs dan rule of laws Eropa.
 
Dalam konteks interaksi dan peran Muslim di Eropa tadi, penulis tidak sepakat dengan metafora silent revolution yang digagas Tarik Ramadan, tetapi lebih dalam kerangka melibatkan komunitas Muslim Eropa dalam sebuah rekayasa peaceful enlightenment, dalam konteks positive engagement dan civilised contribution, sesuai dengan semangat ketika kita merayakan 1 Muharram, yang kali ini sudah berada pada angka 1429 H.

PERKEMBANGAN ISLAM DI USA. 

1776- few Muslims in the U.S 
18th century- Ayuba Suleiman Diallo (1701-1773) also known as Job ben Solomon, Thomas Bluett’s Some Memories of the Life of Job 

19th century- 

1807- Umar Ibn Said- also known as Uncle Moreau and Prince Omeroh -Muslim scholar- captured during a military conflict enslaved and taken across the Atlantic Ocean to the United States. Wrote fourteen manuscripts and an autobiography (1831). Further coverage of Omar’s writings within the context of Slave Narratives and Muslim Slave Narratives can be found in Five Classic Muslim Slave Narratives by Muhammed Al-Ahari. 

1888- Alexander Russell Web- (1846-1916)- author Islam in America and two booklets about the Armenian and Turkish Wars from a Muslim point of view: The Armenian Troubles and Where the Responsibility Lies and A Few Facts About Turkey Under the Rule of Abdul Hamid II.started the organ of the American Muslim Propagation Movement called Moslem World. Main representative for Islam at the  

1893 World Parliament of Religions in Chicago. He started study circles, i.e. in Chicago, Washington, D.C., Newark, Manhattan, Kansas City, Philadelphia, Pittsburgh, and Cleveland. They were named Mecca Study Circle No. I (NYC), Koran Study Circle, Capital Study Circle No. 4, etc. He was appointed the Honorary Turkish Consul in New York by Sultan Abdul Hamid II. 

1893- Muslim migration to the U.S 

20th Century 

1907- Immigrants from Poland, Russia, and Lithuania found the first Muslim organization in New York City 

1913 Noble Drew Ali (1886–1929) Moorish Science Temple of America, teaching the  
faith to African–Americans 

1915- The first mosque, founded by Albanian Muslims is established in an older building that was not built to be a mosque.  

1920- Ahmadiyyah Movement from India, which was active in publishing tracts and English translations of the Qur’an and in helping African–American converts learn Arabic. 
Shaykh Daoud Ahmed Faisal- Islamic Mission of America- New York City- literature including Sahabiyat, a Muslim journal for women 
Shaykh Daoud’ s wife, “Mother” Khadijah Faisal- president of the Muslim Ladies Cultural Society 

1930-Wallace D. Fard - Detroit - preaching black nationalism and Islamic faith. Fard founded the Nation of Islam there in the same year. 

1934-Elijah Muhammad, (1897-1975) African–Americans became “Black Muslims,” calling themselves the Nation of Islam. 

1935 The first building built specifically to be a mosque is established in Cedar Rapids, Iowa.  

1950- Ascendency of Nation of Islam  

1956- Arrival of more than one million Muslims in the United States after the American immigration laws were reformed 

1962- Darul Islam, founded in Brooklyn, New York- largest and most influential community of African-American Sunni Muslims. Darul Islam is a private decentralized community, which did not allow immigrants in its midst until the mid- 

1970s. 

1960’s- Hanafi Madhhab Center, founded by Hammad Abdul Khalis- African-American Sunni group that made headlines in the 1970s because of its conversion of the basketball star, Kareem Abdul Jabbar, and the assassination of Khalis’ family in their Washington D.C. headquarters. 
 
1964- Malcolm X- Muslim Mosque, Inc. in New York City 

1975- Warith Deen Muhammad- son of Elijah Muhammad - Supreme Minister of the Nation of Islam after his father’s death- mandated sweeping changes called the “Second Resurrection” of African Americans- refuted the Nation of Islam’s racial-separatist teachings, community’s mission was directed not only at black Americans, but at the entire American environment, 1976- renamed the Nation of Islam the “World Community of Al-Islam in the West” 1980- renamed to “American Muslim Mission” 1990-renamed to Muslim American Community”. Warith Deen Mohammed’s positive relationships with immigrant Muslims, the world of Islam, and the American government are important developments in the history of mainstream Islam in the United States. Cassius Clay- Muhammand Ali- World Heavyweight Boxing Championship (3 times) Career 1960-1980. Converted to Sunni Islam in 1975. Following his ascension to champion, he also became famous for other reasons: He revealed that he was a member of the Nation of Islam (often called the Black Muslims at the time) and Malcolm X provided Clay with the name Cassius X. March 6, 1964, Malcolm X took Clay on a guided tour of the United Nations building (for a second time). Malcolm X announced that Clay would be granted his “X.” That same night, Elijah Muhammad recorded a statement over the phone to be played over the radio that Clay would be renamed Muhammad (one who is worthy of praise) Ali (fourth rightly guided caliph). This caused much controversy in the United States.  
 
Minister Louis Farrakhan, current leader of the Nation of Islam- organized the Million Man March in 1995

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar